Now Reading
2008
Ranting, Tawangsri, Gendhing, dan Zhang Mey tumbuh bersama sejak belia. Mereka menjalani takdir sebagai perempuan dan menemukan bahwa hidup tak selalu terkonfigurasi serupa dongeng masa lalu para peri.
Kebun kehidupan pun acapkali melalui kemarau panjang yang harus dilewati. Mereka tak berdaya mengelak dari kepatuhan terhadap partitur perkawinan, walaupun yang teralun adalah selarik nada pahit.
Beranikah mereka menentukan pilihan? Sanggupkah mereka ingkar dari kisah berurai air mata dan menjadikan perjalanan hidup sebagai sebuah pengembaraan menakjubkan?
Kehidupan perkawinan bukan hanya indah, bukan hanya agung, tetapi mulia. Keindahan bisa berubah karena gairah bisa berkurang, bisa bertambah. Keagungannya bisa sementara teraling mendung. Namun kemuliaannya tetap sama, selamanya. Sebab kemuliaan itu adalah ketika kita menunjukkan layak dicinta dan mencinta. Itulah kemuliaan dalam kemuliaan Tuhan.
Kira-kira begitulah gagasan yang dicetuskan Jati Sukmono, sudesi—sukses dengan satu istri.
Tetapi apakah seorang Jati Sukmono yang menggelorakan dan merumuskan hubungan istri-suami masih bisa konsekuen, kalau percobaan itu terjadi pada dirinya? Kalau istrinya ternyata menjalin kembali hubungan dengan kekasihnya semasa sekolah dulu, dan ternyata Agus—yang selama ini dianggapnya anak kandungnya—adalah buah penyelewengan itu? Apakah Jati Sukmono masih bisa bercerita tentang bagaimana memaafkan? Apa topangan sikapnya?
Dalam Sudesi ditulis rahasia yang menetas dari pengalamannya sebagai suami selama 20 tahun lebih, serta kenapa perkawinan merupakan jawaban cinta, dan bukan pertanyaan.
Bertahun-tahun Adriana Amandira memendam cinta pada Baron tanpa berani memperlihatkannya, karena mengira dia bukan tipe wanita yang disukai lelaki itu. Sepuluh tahun kemudian, ketika sudah sama-sama dewasa dan sukses, kenyataan berkata lain dan kesempatan terbuka untuknya untuk memiliki kebersamaan mereka.
Namun ketika Baron melamarnya, Adriana bimbang. Jika ia menerima pinangan lelaki itu, berarti dia akan melukai hati Oli, tunangan Baron yang juga teman mereka.
Adriana merasa frustrasi, patah hati. Untuk melupakan Baron, dia lalu memutuskan untuk melakukan perbuatan gila-gilaan yang belum pernah dilakukannya selama hidup, dan bukan khas dirinya. Salah satunya, dia ingin sekali berkencan dengan seseorang, sembarang lelaki, siapa pun dia. Dan Adriana tak mengira, bahwa yang datang menyambut tawarannya adalah sahabatnya sendiri….





comments